dongeng sebelum tidur

Cerpen. Dongeng . Cerita Rakyat

Ketika Senyummu Hadir


Akhirnya terlihat juga lekukan di bibirnya. Tak kusangka, akan dapat melihatnya. Bagaikan tersambar petir aku melihatnya. Kakiku langsung kaku seakan bergetar dan tak mampu menahan tubuh ini berdiri. Aku pun hanya diam menatapnya. Segala perasaan bercampur menjadi satu; antara kaget, kagum dan tak percaya.

^_^

“Gubrak!”

Aku tersontak kaget mendengarnya. Angin yang terbawa derap pintu ikut meniup kertas-kertas di atas mejaku. Sepertinya akan ada hujan deras, pikirku.

“Gubrak!”

Terdengar lagi gebrakan itu. Aku menatap pintu dan jendela. Tak ada yang lewat dan tak ada yang terbuka satu pun.

“Gubrak!”

Hei, darimana kah suara itu? Aku berusaha mencarinya. Lalu terus menerus gebrakan itu tak ada henti memekakan telingaku di tambah suara umpatan kasar tak jelas yang sangat mengganggu.

Aku melihat seorang pria sedang marah-marah seorang diri di depan komputer. Sepertinya komputernya bermasalah dan dia sangat risih akan hal itu. Sesekali dia menggebrakkan tangannya ke meja atau menendang kakinya ke lemari di dekatnya. Kadang-kadang di melemparkan barang yang ada di mejanya ke sembarang arah sambil mengumpat tak jelas.

Orang-orang di sekitarnya hanya diam terpaku sambil ketakutan melihatnya. Beberapa bahkan ada yang sengaja menjauh dan menghindarinya.

Siapakah dia? Aku baru pertama kali melihatnya.

Perlahan aku berjalan menghampirinya.

“Ssst…” temanku melambaikan tangannya memberikan kode agar jangan mendekatinya. Tapi aku tetap tak peduli. Suaranya sangat menganggu ketenangan murid-muridku di ruang sebelah.

“Pak, maaf pak” Aku berbicara perlahan.

Sepertinya dia tak mendengar.

Aku mengeraskan suaraku. Dia tetap tak peduli.

“Pak!!” Aku berteriak dan menepuk pundaknya.

“Apa maumu?” jeritnya. Dia menoleh dan menatapku. Matanya terbelalak sangat tajam ke arahku, matanya merah seakan mau keluar bola matanya. Wajahnya pun merah bagai terbakar api. Mulutnya yang berteriak juga sangat menyeramkan, lidahnya seakan mau loncat, seluruh giginya pun tampak dan terlihat tajam taringnya seperti gergaji.

Aku langsung meloncat mundur karena kaget. Baru kali ini aku melihat nyata seorang buto ijo dihadapanku.

“Ada apa?” Dia berteriak lagi.

Aku langsung gugup.

“Ma…ma..af Pak, to..long jangan be…risik. Anak-anak sedang belajar.”

Dia hanya menggeram seperti raksasa yang kebingungan. “Dan tolong jangan ganggu saya juga yah!” gertaknya.

Temanku menarik tanganku dan mengedipkan matanya sambil menaruh telunjuk di bibirnya. Aku pun mengikutinya.

Sungguh seram. Aku baru tahu ada raksasa di tempat ini.

^_^

Sebulan sudah dan tak ada satu pun yang berani menegur sang ‘raksasa’. Bahkan satpam juga tak berani. Aku mulai merasakan ketidaknyamanan. Tapi tak ada yang bertindak sedikit pun.

Yang ada hanya menjaga jarak saja dengannya. Aku sendiri khawatir muridku akan terganggu di kelas karena keributan dan kata-kata kasarnya itu. Aku mulai terbawa marah tapi tak berani memarahinya.

Akhirnya kusimpan saja emosi dalam hati. Dan hanya mendengus kesal setiap saat.

^_^

Ulangan telah selesai. Hanya tinggal menunggu hari untuk bagi rapor dan liburan. Aah senang rasanya. Namun pekerjaan masih menumpuk. Masih banyak hasil ulangan yang harus kuperiksa hari ini.

Tumben sepi, kemanakah si buto ijo? pikirku ketika sedang menyeduh kopi. Mungkin dia cuti, tapi siapa yang peduli.

Tiba-tiba terdengar jeritan di luar. Anak-anak yang bermain semakin ramai terdengar. Tak lama terdengar tangisan yang kuat.

Ah, pasti ada yang berkelahi lagi, pikirku. Aku mencoba mengabaikannya sambil tetap menikmati kopiku.

“Prang!” terdengar suara batu yang membentur kaleng. Dan suara gebrakan yang sempat menghilang itu kembali terdengar lagi. Aku langsung kaget. Kemudian terdengar lagi tangisan yang makin kencang.

Aku langsung berlari keluar. Siapa yang berkelahi hari ini?

“Bu….tolong bu…” jerit seorang anak yang terkapar di lantai. Dia memeluk perutnya dan menangis. Kulihat si buto ijo ada di sebelahnya sambil memaki dan menendangnya.

Astaga! Apa yang terjadi?

“Pak…!!! Tolong hentikan..kasihan mereka!” Aku berlari menghampiri muridku. Anak itu langsung berjalan ke arahku dengan tertatih-tatih dan memelukku. Aku langsung mengusap kepalanya.

Aku benar-benar marah kepada si raksasa itu. “Pak, katakan! Apa yang Bapak lakukan kepada mereka? Saya akan adukan kepada polisi.”

“Apa urusanmu?! Salah mereka sendiri yang mengangguku bekerja. Berisik sekali!”

“Ini kan jam istirahat Pak! Lagipula mereka hanya anak-anak. Anda tak perlu sekasar itu kepada mereka.”

Aku marah. Sangat marah. Aku tatap matanya dengan sengaja melotot dan muka masam. Tapi sepertinya masih kalah dengan kedua bola matanya yang sebesar planet Jupiter itu. Anak-anak di sekitarku semakin menangis tersedu-sedu. Aku semakin marah menatapnya. Kurasakan keringat dingin mengalir di telapak tanganku.

Tak lama beberapa orang teman dan satpam datang untuk melerai kami. Beberapa di antaranya terpaksa harus membawa anak muridku ke Rumah Sakit dan menghubungi orang tuanya.

^_^

Hari masih pagi. Dan sepertinya aku yang pertama datang pagi ini. Tak lama kudengar pintu ruanganku terbuka.

Ah, kenapa dia masih di sini? Kenapa dia tidak dikeluarkan? Aku tak dapat memafkannya.

“Bu…” terdengar suara seseorang.

Aku menoleh ke kiri dan kanan mencari asal suara. Tidak ada siapa-siapa selain kita. Suara siapakah itu?

“Bu…” terdengar lagi

Aku kaget. Ternyata itu adalah suaranya!

Aku baru tahu ternyata dia memiliki suara sebagus itu. Selama ini hanya suara gertakan dan erangan raksasa kelaparan saja yang keluar dari mulutnya. Dia menatapku dan kurasakan ada yang berbeda saat itu. Wajahnya sangat berbeda dengan yang biasa kulihat. Kulihat tatapan lembut dari matanya. Aku langsung terdiam menatapnya.

“Maafkan aku atas peristiwa kemarin,” katanya.

Aku hanya tersenyum kecut. Tidak…aku tidak bisa memafkannya. Muridku sakit parah dan terpaksa harus dirawat karena ulahnya. Tapi aku tak bisa menatap wajahnya. Entah kenapa emosiku langsung luruh melihat pancaran dari matanya.

“Maaf, aku belum sempat mengenalmu sejak pertama bertemu.”

Aku hanya diam.

Lalu dia tersenyum.

Apa? Ternyata seorang raksasa bisa tersenyum?

“Maafkan aku yah bu…” katanya sekali lagi sambil tersenyum.

Senyumnya menggetarkan seluruh permukaan bumi tempat aku berpijak. Segala getaran emosi di dadaku berubah haluan menjadi getaran yang di rasa beda. Tidak…aku tak bisa memaafkannya, tegasku dalam hati. Tapi senyumnya serasa membuat air di sungai berhenti mengalir.

Aku tak boleh menatapnya.

“Bu? Ibu mendengar kata-kata saya?”

Aku menunduk. Menghindari tatapan wajah dan senyumnya. Aku terus menunduk sambil membuka laci mejaku. Aku melihat segala alat kerjaku di sana. Dan akhirnya aku berhasil meraih yang kubutuhkan saat itu.

“Bu? Sekali lagi saya minta maaf yah?”

Aku mendongakkan kepalaku dan menatapnya. Kulihat senyumnya yang membuatku gemetar dan tak bisa kulupakan. Pastinya tak akan pernah kulupakan karena itu adalah senyumnya yang pertama dan terakhir kali kulihat.

“Iya Pak. Saya juga minta maaf yah,”kataku.

Aku terus menatap senyum di wajahnya sepuas hatiku. Wajahnya yang tersenyum perlahan memucat dengan gunting tajam  yang tertancap di dada kanannya.

Aku pun turut tersenyum menatapnya. Kami saling tersenyum.(arlin)

^_^

Jakarta, 1 Juni 2015

June 1, 2015 - Posted by | Cerpen Dewasa | ,

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: