dongeng sebelum tidur

Cerpen. Dongeng . Cerita Rakyat

Pada Sebuah Gerbong


Di stasiun kereta Depok pada hari Senin ketika ayam pun masih malas berkokok namun suasana di sana telah ramai, terdengar suara gemuruh dari seberang ditambah peluit lalu sirine bertubi-tubi. Semua orang langsung bergegas menuju ke tempat pemberhentian gerbong kereta. Kala matahari masih malu-malu untuk bangkit dari peraduan, tapi semua yang ada di stasiun tak ada yang malu untuk saling bekejaran dengan pakaian rapi  dan berdasi mengejar gerbong kereta.

Haris pun tak mau kalah berjuang menaiki gerbong, yang sama saja perjuangannya bagai mendaki gunung. Siku kanan dan kiri kian beradu. Kakinya terinjak berbagai jenis sepatu. Berbagai jenis bau nafas kian terhembus diwajahnya. Aneka parfum yang masih wangi tercium di hidungnya. Untung masih pagi, kala senja pas pulang nanti bau badan manusia sudah tercium tak karuan bercampur keringat. Setiap hari bagaikan naik kereta untuk pulang mudik baginya. Tapi ini bukan mudik. Bukan pulang ke kampung halaman untuk liburan. Tapi untuk bekerja di ibukota. Untuk bekerja demi segenggam gaji. Untuk bekerja di ibukota masih harus ‘pemanasan’ dulu, perjuangan di kereta bagi commuter sepertinya.

Di pintu gerbong beberapa orang menghardiknya. Ada pula yang menjewenya

. Sakit. Jadi teringat saat dijewer guru sekolahnya saat lupa mengerjakaan PR. “Hei bung! Ini gerbong wanita!” “Pakai rok dulu sebelum masuk!”. Haris tak peduli dengan omelan ibu-ibu arisan yang cerewet itu. Masuk ke gerbong.. Aneka ragam manusia dapat dijumpai di dalam gerbong kereta. Disini bukan gerbong kereta. Tapi sebuah negara. Negara kecil dalam ular besi yang berjalan. Beragam profesi ada di sini. Ada yang mengenakan jas, mungkin dia manager. Ada yang membawa laptop, mungkin supervisor. Ada yang pakai seragam pemerintah, pastinya PNS. Adanya mengenakan rok dan blouse, mungkin guru. Ada yang menggunakan seragam pekerja harian. Lengkap. Semua ada disini. Sungguh hebat kereta di Jakarta ini. Jauh lebih banyak peminatnya daripada kereta di Jepang, Singapura atau Hongkong. Sangat padat. Yang duduk berhimpitan sedangkan yang berdiri lebih berhimpitan lagi dan mengikuti ritme kereta saat mengerem mendadak.

Huh! Judulnya saja gerbong wanita. Tapi isinya lebih dari separuhnya pria, perokok, meskipun ada wanitanya juga, tapi sebagian lagi tak jelas jenis kelaminnya. Haris  mengomel dalam hati sambil berjuang mencari tempat duduk. Menyeret kaki. Selangkah demi selangkah kecil. Diantara ketiak orang-orang yang berdiri di kereta. Seorang ibu gemuk menggertaknya. “Hei, buat apa kau kesini? Di sini gerbong wanita, Mas!”. Haris langsung mencibir dan menjawab sekenanya, “Maaf bu saya punya asma dan di sebelah bau rokok!”.

Haris masih melirik kesana kemari. Masih ada bangku kosong ternyata. Tapi dilewatkannya begitu saja. Bukan bangku kosong yang dicarinya di kereta ini. Tapi seseorang. Seseorang yang senantiasa membuatnya semangat berdesakan di kereta ini. Kemanakah dia?

Sampai akhirnya dia melihat juga seseorang yang dicarinya. Lupa  sudah segala penderitaannya di kereta sarden ini.

Seorang wanita mengenakan blazer yang sedang asyik membaca di tablet. Dia duduk tak nyaman tapi dia tetap manis. Entah mengapa dia masih kuat menggunakan blazer mekipun kereta ini tak terasa AC-nya. Mungkin pekerjaan dan jabatannya menuntutnya demikian. Tapi mengapa tak dia simpan saja blazernya di kantornya.  Sebelum menghampirinya, Haris berusaha meyakinkan diri apakah bau pisang goreng dan ubi rebus  saat sarapan tadi pagi sudah hilang dari mulutnya.

Haris menyapanya. “Lagi main game yah?”

Haris tepat berdiri dihadapannya dan gasis itu langsung mendongak. Lalu tersenyum.. “Tidak. Lagi lihat GPS”jawabnya.

“Mau kemana?”

“Lihat rute alternatif dari rumah ke kantor yang tidak macet.”

“Lho?”kata Haris.”Buat apa? Kan kau selalu naik KRL.”

“Hari ini aku promosi! Dan mendapat fasilitas mobil pribadi dari kantor.” Jawabnya senang.

“Ooh..” Haris langsung kecewa mendengarnya. Berarti besok dia tidak dapat berjumpa lagi dengan gadis manis berblazer itu. Tapi pancaran gembira di mata gadis itu membuat Haris ikut tersenyum. “Selamat yah.”

Haris sempat kehabisan kata-kata. Sungguh malu aku, katanya dalam hati,  maukah seorang gadis cantik dengan mobil pribadi kencan dengan commuter? Haris belum sempat mengajaknya kencan namun Setiap hari telah ‘kencan’ dengannya di kereta ini.  Haris mengucapkan terima kasih kepada PT.KAI yang membuat kereta rel listrik  sehingga dia setiap hari bisa bertemu dengan gadis cantik ini setiap hari.

“Hai, kok melamun Mas?” tegurnya. “Lagi mikirin kerjaan yah.”

“Tidak.” Jawab Haris. “Kenapa kau mau naik mobil? Bikin Jakarta makin macet saja.”

Dia tersenyum.”Justru aku sengaja naik mobil supaya kereta ini tidak makin penuh seperti sarden dan kau jadi bisa dapat tempat duduk menggantikan aku.”

“Maksudmu, tempat duduk di gerbong wanita? Ah. Tidak! Bisa-bisa aku dimarahi sama ibu-ibu disini.”

“Lho, bukannya kau setiap hari juga sudah ada di gerbong wanita.”

“Tapi kan…..” Haris langsung menelan ludah , tapi karena ada kau katanya dalam hati. Haris langsung mencoba mengalihkan pembicaraan. “Sekarang apa jabatanmu setelah promosi? Direksi?”

Dia menggeleng. Dari bibirnya yang tipis dia hendak mengucapkan sesuatu. Namun Haris tak mendengarnya. Lagi-lagi suara gemuruh itu terdengar. Rem, sirine, peluit, dan ribuan orang yang bergegas hendak turun di stasiun tujuan. Sial! Begitu cepat kereta ini sampai. Meskipun waktu inilah idaman seluruh penduduk ibukota. Begitu singkat waktu dari Depok ke Sudirman menghindari macet dan jalur 3 in 1, tapi sungguh saat itulah hal yang dibenci Haris dari kereta ini. Begitu cepat momen bertemu seorang gadis cantik di hadapannya. Dan kali ini adalah saat terakhir berjumpa dengannya.

“Mas, kok melamun lagi? Keretanya sudah sampai lho.”  Gadis itu pun langsung melangkah dari tempat duduknya dan turun dari gerbong setelah itu larut lebur ke dalam ribuan orang menuju kantornya. Dan itu adalah terakhir kalinya Haris menjumpainya di kereta ini. Ketika keluar dari kereta sarden itu, dimana seharusnya para commuter langsung berbafas lega saat menghirup udara segar, Haris justru merasa sesak dada.

Keesokan harinya saat semua orang harus segera lekas naik ke kereta, terngiang lagu taman kanak-kanak di telinga Haris mengenai kereta api. Namun kereta ini tak ke Bandung atau Surabaya. Dan tidak dinaiki dengan percuma alias gratis. Tapi kali ini segalanya dirasa percuma. Dirasa hambar. Meskipun tahu kereta tak berhenti lama, Haris berjalan lunglai ke arah gerbong, tak ingin olahraga di pagi hari beserta atlit berdasi lainnya. Melirik gerbong wanita dengan lesu. Tak ada seorang wanita mengenakan blazer tampak di pintu gerbong. Dia pasti sudah mengenakan mobil barunya dan sedang berjuang bersama pengemudi lainnya di ibukota mengarungi macet. Haris tak berminat ke gerbong bercat pink, dan sudah muak setiap hari dipukuli ibu-ibu di sana. Baru saja melangkah ke gerbong umum, pandangan matanya sekilas melirik ke gerbong wanita.

Seorang wanita seksi berkulit putih menarik perhatian Haris. Haris pun langsung bergegas ke arah gerbong wanita dan kembali menjadi bahan cacian serta pukulan ibu-ibu arisan kota metropolitan. Dari penampilannya, Haris yakin wanita itu pastilah seorang penjaga di gerai kosmetik di mall yang pastinya nanti tak akan mendapat fasilitas mobil dari bosnya. Selamanya dia akan naik kereta ini, pikir Haris, atau bila suatu saat aku dapat mobil dia pasti akan mau diantar. Kembali masuk ke gerbong wanita yang sangat familiar dengannya, Haris kembali mencari sosok wanita seksi tersebut. Kembali berjuang di bawah himpitan berbagai umat manusia, di bawah ketiak dan injakan kaki; pantang menyerah akhirnya ditemukan pula si seksi idamannya itu. Dia sedang berdiri dan berbicara dengan kawannya. Haris terus mendekatinya. Selangkah lagi. Terdengar suaranya yang lembut. Haris malah semakin keringat dingin. Ketika semakin mendekat, terlihat gaya si seksi yang sangat gemulai. Haris semakin salah tingkah dan gugup. Tercium parfumnya yang sangat menusuk hidung. Haris semakin gemetar. Tanpa sadar, Haris menepuk bahunya lalu dia pun membalikkan badan. Haris semakin tak menentu perasannya, degup jantungnya semakin kencang, seakan nafasnya berhenti, ketika melihat sosok yang dikejarnya ternyata seorang…..pria. (arlin,30/6/14)

July 17, 2014 - Posted by | Cerpen Dewasa |

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: