dongeng sebelum tidur

Cerpen. Dongeng . Cerita Rakyat

Cinta Bang Thoyib


Sangat berbeda dengan tradisi lebaran di rumah-rumah lainnya, saat malam takbiran Mpok Lila justru masak nasi goreng dan telor ceplok. Tidak ada kue lebaran untuk tamu-tamunya. Mpok Lila hanya menyajikan teh manis untuk saudaranya yang berkunjung pada malam takbiran.
”Maaf yah, buat saya lebaran sama saja dengan hari lainnya. Makasih sudah mau silaturahmi ke sini.”
”Kenapa ga buat ketupat Mpok? Karena lebaran kali ini bang Thoyib ga di rumah lagi?” tanya kakak iparnya.
”Iya, seperti biasa.”
”Kayaknya tiap kali lebaran bang Thoyib memang tak pernah ada di rumah deh. Sudah berapa kali lebaran dia ga pulang, Mpok?” kata tantenya.
”Maklum lah dia justru lagi sibuk-sibuknya kerja pas lebaran. Yah, sejak kita nikah bang Thoyib memang ga pernah lebaran di rumah….berarti udah enam kali lebaran sampai lebaran sekarang.”
”Waah….sabar aja yah Mpok,” kata sepupunya.”Ga masalah nih suami-istri ga pernah lebaran bareng?”
”Buat saya sih ga masalah,” kata Mpok Lila sambil minum teh manis.”Kan dia kerja, lagipula saya yakin bang Thoyib hanya pas lebarannya aja kok ga di rumah. Hari-hari biasa sih kita pasti ngumpul bareng.”

^_^
Tujuh hari setelah lebaran, bel pintu Mpok Lila berbunyi. Mpok Lila langsung girang menyambutnya. Mpok Lila sudah berdandan cantik dengan pakaian terbaiknya, malam sebelunya Mpok Lila telah siap memasak ketupat, opor ayam, rendang, oseng tempe, sambal goreng ati-ampela, emping….semua menu lebaran kini sudah tersaji komplit di meja makannya. Sangat berbeda dengan tetangganya yang lain dimana opor ayam tinggal kuah, di rumah Mpok Lila justru masih komplit tumpah ruah. Di meja depan juga tersaji aneka kue bolu, tape ketan buatan sendiri dan kopi panas favorit suaminya.
Ketika pintu dibuka, tampak Bang Thoyib masih lengkap dengan seragam polantasnya. Mpok Lila langsung memeluknya, meskipun bau keringat dan asap knalpot kendaraan mudik, tapi buat Mpok Lila itu justru sangat harum.
Bang Thoyib langsung duduk dan menikmati kopi panas buatan istrinya. Bang Thoyib tampak lelah dan igin melepaskan seragamnya. Tapi Mpok Lila mencegahnya.
”Biar saya aja Bang, yang bantuin Abang.”
Mpok Lila hendak melepaskan sepatunya Bang Thoyib. Dia berpikir-pikir, yang kanan atau kiri dulu, melihat yang kiri tampak lebih sempit sepatunya Mpok Lila langsung melepaskan sepatu kiri Bang Thoyib. Tak lama mata Mpok Lila langsung bersinar-sinar.
”Waaah banyak banget nih Bang! Kok bisa yah? Ada berapa duit nih?”
”Belum sempat Abang hitung. Maklum lah, pas lebaran orang biasanya bawa uang dalam jumlah besar dan biasanya pas mudik mereka suka ngantuk di jalan, begitu Abang langsung ’pritt’ mereka ga mau lama-lama….jadi deh tuh uang buat kita.”
Ketika selesai membuka kedua sepatu Bang Thoyib, segepok uang ada di tangan Mpok Lila, Mpok Lila langsung memeluk suaminya. Biasanya dalam pekerjaan rutin sehari-hari Bang Thoyib sebagai polisi juga selalu ada uang suap di sepatunya, tapi paling banyak hanya 100 ribu. Namun bila lebaran tiba biasanya Bang Thoyib ditempatkan di posko mudik, dan biasanya disitu jauh lebih banyak ’mangsa’, uang suap yang diterimanya pun bisa lebih dari tiga kali THR pegawai kantoran.
Belum selesai Mpok Lila menghitung uangnya, tiba-tiba bang Thoyib membuka sarung tangannya.

”Mpok, lihat apa ini?”
Konsentrasi saat menghitung langsung buyar ketika melihat yang mengkilap di tangan suaminya.
”Cincin kawin siapa, Bang? Abang ga nyopet kan?”
”Oh, tentu tidak. Kemarin pas malam takbiran kelihatannya ada suami-istri yang berantem di jalan, nyaris nabrak motor. Begitu abang panggil, suaminya langsung ngasih cincin ke abang dan ngancam cerai ke istrinya. Urusannya diperpanjang ke Polda setempat, tapi ini cincin udah milik abang.”
”Lumayan nih Bang kalau dijual, matanya berlian lagi. Pasti orang kaya yah Bang?”
”Iya, keliatannya sih begitu. Oh iya abang juga terima ini. Dari satu orang lho” Bang Thoyib mengeluarkan sejuamlah uang dari sakunya.
”Dua juta Bang? Dapat dari mana nih?”
”Pejabat. Dia melanggar lampu merah, mungkin dia biasa pakai pengawal jalan., jadi tak kenal dengan lampu merah.”
Mpok Lila langsung sumringah dengan segala hal yang diterimanya hari itu. Dia langsung berencana beli baju baru untuk anak-anak, jalan-jalan ke mall, pergi ke salon, makan enak di restoran. Senangnya luar biasa, suasana lebaran hampir berakhir tapi dia justru banyak duit, sedangkan saudara-saudara dan tetangganya biasanya uangnya habis dipakai untuk lebaran. Tapi dia justru kebalikannya.
”Bang, kok melamun aja?”
”Mpok, menurutmu ini halal tidak yah harta yang kita terima? Semuanya dapat dari uang suap.”
”Yah bang kalau mau halal sih susah. Hakim juga terima suap kok. Gaji abang sebagai polisi kan memang kecil. Lagipula orang yang ngasih duit ke abang kan ikhlas.”
”Tapi…..”
”Yang penting kita membelanjakannya juga di jalan yang halal. Bukan untuk beli narkoba.”
”Ya sudahlah, aku capek. Makan ketupat saja yuk…”
”Ooh…Bang Thoyib, makasih yah. I love you….”
^_^
Tahun terus berlalu, makin banyak anggota kepolisian baru sehingga Bang Thoyib tak lagi ditugaskan di posko mudik untuk mengatasi arus mudik dan arus balik sekitar hari lebaran. Karena faktor usia juga bang Thoyib disuruh tinggal di rumah saat lebaran.
Malam takbiran kali ini bang Thoyib diam di rumah sambil menonton TV, sementara Mpok Lila sibuk di dapur membuat hidangan lebaran.
Gubrag! Tiba-tiba terdengar suara panci jatuh menyaingi suara petasan.
”Ada apa, Mpok? Sabar yah…” kata bang Thoyib.
”Sabar apanya Bang?! Gimana mau sabar kalau ga punya duit?”
”Lho kenapa kamu? Kenapa tiba-tiba ngomongin duit? Apa hubungannya masak sama duit?!”
”Pasti ada hubungannya, Bang. Gimana bisa masak kalau ga belanja? Nah darimana kita bisa belanja kalau ga punya duit? Abang bantu saya dong! Jangan cuma diam saj di rumah sambil nonton TV!”
”Urusan masak kan sudah tugas kamu sebagai ibu rumah tangga. Kenapa sih kamu sewot begini? Kita kan besok mau lebaran.”
”Maksud saya bukan bantuin masak, tapi bantu kasih duit yang banyak! Gimana saya ga sewot kalau besok lebaran tapi cuma bisa masak ketupat, oseng tempe dan bawang goreng karena uang belanja yang Abang kasih sedikit!”
”Yah kamu harap maklum lah Mpok. Saya kan hanya polisi, gajinya kecil, trus kamu juga sehari-hari boros!”
”Makanya cari penghasilan tambahan dong. Akhir-akhir ini sepatu kamu hanya ada jempol dan kaos kaki saja! Terus pas lebaran di rumah aja bukannya cari duit!”
”Lho? Kamu ga suka Abang di rumah pas lebaran?”
”Iya! Soalnya kalau Abang lebaran di rumah, pasti ga punya duit!”
”Apa?! Lebaran itu kan waktunya ngumpul dengan keluarga. Kamu lebih cinta Abang atau duit sih?!”
”Duit!”
”Hah?!? Dasar cewek matre!”
”Saya ga bisa ngasih makan Abang kalau ga ada duit! Saya ngurusin Abang buat bikin kopi, masak kesukaannya Abang juga perlu duit! Buat nelpon Abang juga perlu duit! Anak-anak buat sekolah juga perlu duit! Sekarang anak-anak ga bisa beli baju lebaran karena ga punya duit! Lama-lama Abang ga bisa nonton TV karena ga punya duit! Makanya cari duit dong Bang!”
”Cari duit darimana? Dari Hongkong?”
”Yah gimana caranya yang penting halal! Udah sana keluar cari duit Bang.”
”Kamu kira halal kalau saya terima uang suap terus?”
”Halal dong Bang, daripada ngambil uang orang kayak maling.”
”Minta uang suap juga sama kayak ngambil uang orang. Abang ga enak hati, tiap tahun pas orang lagi butuh banyak duit pas lebaran tapi duitnya Abang minta dengan modal ’priit’ doang. Makanya masakan lebaran kamu tuh ga pernah enak karena modal dari uang haram!”
”Terserah deh apa kata Abang. Tapi Abang mau ga lebaran cuma makan ketupat dan bawang goreng doang?”
Bang Thoyib sudah mulai panas mendengar omelan istrinya yang cerewet. Dia malas bekerja saat hari raya tapi dia juga tak mau lebaran hanya makan ketupat dan bawang goreng. Akhirnya Bang Thoyib langsung bergegas mengenakan seragamnya dan keluar rumah untuk bekerja meskipun hari itu dia bebas tugas.
Ketika pintu pagar ditutup masih terdengar teriakan istrinya. ”Bang kalau mau makan yang enak, cari duit yang halal yah!! Jangan terima uang suap lagi!”
”Huh gimana caranya polisi dapat duit banyak tanpa terima uang suap?” Bang Thoyib mengumpat dalam hati.
^_^
Tahun berikutnya, tradisi lama kembali berulang di rumah Mpok Lila, Bang Thoyib tak pernah pulang pas lebaran.
Sudah mulai tiga kali lebaran Bang Thoyib tak pulang namun dia tetap pulang dengan segepok uang yang membuat Mpok Lila bahagia. Hanya saja bedanya kali ini uangnya langsung diberikan dari dompetnya, tak perlu membuka sepatu atau sarung tangannya dulu. Mpok Lila tahu kali ini suaminya tak lagi bertugas di posko mudik, tapi dia tak mempertanyakan darimana uangnya, yang jelas dia masih polisi dengan seragamnya.
Suatu hari – bukan di hari lebaran – Mpok Lila meminta uang kepada Bang Thoyib untuk biaya sekolah anaknya.
”Ambil saja di laci lemariku, Mpok.”
Ketika membuka laci, Mpok Lila takjub dengan uang yang ada dan buku tabungannya Bang Thoyib. Bagaimanapun dia hanya polisi, darimana dia bisa dapat uang sebanyak itu?
Mpok Lila langsung bertanya apakah Bang Thoyib korupsi, Bang Thoyib menyangkalnya.
”Tidak. Abang kan sudah janji tak terima uang suap lagi.”
”Terus…darimana Abang bisa dapat uang sebanyak itu? Abang punya bisnis lain? Saya tahu Abang sudah tidak bekerja lagi di posko mudik.”
”Abang masih tetap polisi biasa. Tidak ada usaha lain.”
”Terus Abang kerja apa selama lebaran? Bisa dapat uang sebanyak itu.”
”Abang kerja sebagai polisi. Polisi sejati yang melayani masyarakat.”
”Maksudnya? Jangan lebay dong Bang.”
”Setiap lebaran Abang jaga mobil di rest area buat yang mau mudik. Buat yang kelihatan masih ngantuk tapi tetap mau jalan, Abang tawarin buat gantiin nyetir sementara daripada bahaya di jalan. Kadang buat yang anaknya sakit, Abang suka anter ke puskesmas atau rumah sakit daerah terdekat. Abang juga suka bantu yang mobilnya kelihatan bermasalah di rest area, biasanya Abang langsung telpon polres setempat bila ada kerusakan berat dan mereka sekeluarga tetap bisa diantar ke tujuan mudiknya dengan mobil polisi.”
”Ooh Bang Thoyib….”
”Ternyata memang lebih enak melayani masyarakat daripada ”merampok’ masyarakat dengan tilang sana-sini. Orang-orang banyak yang suka Abang. Apalagi ibu-ibu, jadi banyak yang suka minta tolong sama Abang.”
”Ooh Bang Thoyib…” Mpok Lila mulai merasa cemburu.
”Tenang biasanya ibu-ibunya sudah tua kok, Mpok. Orang juga jarang melihat ada polisi kayak Abang, dan banyak yang ngasih imbalan ke abang. Awalnya Abang tolak, tapi rezeki ada aja. Gaji Abang naik. Terus orang yang ngasih ke Abang juga makin banyak dan sulit nolaknya. Alhamdulillah, Mpok.”
”Oh Bang Thoyib, I love you.”
”Ternyata lebih enak yah nerima uang halal dari pada uang suap. Masakan di rumah juga tambah enak.”
”Bang, sudahlah ga usah ngomongin duit mulu. Saya sekarang jauh lebih cinta Abang daripada duit. Mulai tahun depan, Abang lebaran di rumah aja yah?”
”Insya Allah, Mpok,” kata Bang Thoyib.”Tapi ngomong-ngomong saya juga sudah keluar dari kepolisian.”
”Kenapa?”
”Jadi polisi rasanya ’gatel’ terus buat nerima uang suap. Karena saya cinta sama kamu saya pegang janji untuk ga terima uang suap makanya saya keluar.”
”Terus…Abang kerja apa?”
”Pindah ke Jasa Marga, jadi penjaga pintu tol. Di sana sudah pasti tak mungkin terima uang suap.”
”Yang penting Abang lebaran selalu di rumah.”
”Tapi sudah perjanjian, katanya untuk pegawai baru selama 2 tahun pertama dinas jaga di pintu tol selama lebaran.”
”Berarti nanti dua kali lebaran Abang juga ga pulang dan ga bisa terima uang suap pula?”
”Iya.”
”Pegawai baru pasti gajinya kecil yah.”
”Mungkin. Kamu kan sudah bilang lebih cinta Abang daripada cinta duit.”
”Iya. Tapi kalau lebaran saya jauh lebih cinta duit daripada Abang.”
Bang Thoyib langsung pingsan.

^_^

Selamat Lebaran
Mohon maaf lahir batin

September 30, 2012 - Posted by | Cerpen Dewasa |

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: