dongeng sebelum tidur

Cerpen. Dongeng . Cerita Rakyat

Jejaka Yogya


Dengan secangkir kopi, terasa segar kembali rasa kantuk Rheina. Awalnya kopi itu terasa nikmat – pada tenggakan pertama – selanjutnya Rheina membanting gelasnya. “Pfouagh…kopi apa ini? sangat pahit!” Rheina langsung meludah.
“Hei .. tega benar kau pada seekor binatang malang!” seorang pemuda menggendong kucing yang tampak kuyu tersiram kopi panas. Bulu-bulunya basah, terguyur cairan hitam, sebagian kulitnya tampak telah melepuh.
Rheina langsung merasa bersalah. “Oh, maafkan. Aku tak tahu ada kucing di sekitar sini. Aku tak bermaksud menyiramnya. Sekali lagi, maafkan. Itu kucingmu, Pak?”
“Aku belum menjadi bapak. Panggil aku mas saja. Ini bukan kucingku, kebetulan saja aku langsung melihatnya ketika tadi dia mengeong dan menjerit. Ternyata ada yang mengguyurnya dengan kopi,” pemuda tadi tersenyum sambil membelai kucing.
“Aku tak mendengarnya mengeong. Mungkin karena aku sangat mengantuk,” kata Rheina.
“Oh…ndak apa-apa.. kenapa sampai ngantuk dan kelihatan kesal hingga melempar secangkir kopi? Kenalkan namaku Mas Deni.”
Rheina langsung berkenalan dengan Mas Deni. Dalam sekejap mereka langsung berbincang akrab. Tanpa sadar Rheina menceritakan masalahnya semalam, karena koneksi internetnya mengalami gangguan dia kerap gagal mengirim tugasnya kepada atasan. Akhirnya tengah malam dia pergi ke warnet 24 jam hanya untuk mengirim surat elektronik kepada atasan.
Rheina yang bukan penyayang binatang, merawat kucing yang diguyurnya dengan kopi. Memberinya salep dari apotik untuk luka melepuhnya, setelah itu memberinya makan bersama-sama dengan Mas Deni.
“Kau hendak memeliharanya, Mas?”
“Oh..ndak.Biarkanlah dia bebas seperti sebelumnya.”
***

“Tiga juta, Mas? Untuk apa?”
Tiba-tiba Mas Deni meminjam sejumlah uang kepada Rheina.
“Sangat banyak keperluanku. Kau kan tahu aku belum ada pekerjaan tetap. Sedangkan aku harus bayar uang kos, makan, dan sebagainya.”
Sudah empat hari Rheina mengenal Mas Deni. Ternyata Mas Deni adalah seorang pemuda sebatang kara dari Yogyakarta. Keluarganya telah tewas menjadi korban musibah gunung Merapi. Keluarganya memang tinggal di Kaliurang yang telah tersapu bersih oleh awan panas gunung Merapi. Karena tak ada keluarga, maka Mas Deni terpaksa mengungsi dan memutuskan untuk meneruskan hidupnya di kota kembang.
Entah mengapa Rheina merasa tertarik dengan Mas Deni, apalagi setelah mengetahui Mas Deni masih lajang. Mas Deni sangatlah lembut, penyabar, baik hati, pendengar yang baik hati serta penyayang binatang. Itulah Mas Deni di mata Rheina. Setiap hari Mas Deni selalu memberi makan kucing liar, menyapa burung gereja, bahkan menolong anjing yang terluka. Mas Deni pun ikhlas menemani ibu kos-nya belanja dan membawakan barang belanjaannya. Mas Deni sudah tak punya keluarga, dia menganggap ibu kosnya adalah pengganti ibunya serta teman kosnya adalah adiknya.
Namun Rheina pun kaget ketika tiba-tiba Mas Deni meminjam uang sedemikian banyak kepadanya. Memang Rheina ada perasaan suka kepadanya, apalagi Mas Deni berhasil menekan rasa stress Rheina terhadap pekerjaannya. Hanya saja untuk meminjamkan uang dalam jumlah yang sangat besar Rheina masih sangat ragu namun di sisi lain Rheina juga iba mengingat bagaimana tragisnya peristiwa Merapi.
“Itu sama dengan sebulan gajiku, Mas.”
“Tolonglah”
“Kau janji akan melunasi?”
“Pasti.”
“Kau sendiri belum ada pekerjaan. Sanggupkah?”
Mas Deni terdiam. Wajahnya tampak memelas. Rheina tak sampai hati melihatnya, apalagi dengan berita di surat kabar dan televisi mengenai bencana Merapi akhir-akhir ini. Yang berhadapan dengannya adalah salah satu korban yang berhasil selamat.
“Baiklah, besok akan kuberikan.”
“Terima kasih.”
“Tapi kau janji untuk melunasinya.”
“Tentu saja. Janji itu hutang yang harus dibayar. Apalagi ini janji untuk bayar hutang.”
“Maafkan, Mas.”
“Lho, ndak apa-apa.”
“Justru aku yang minta maaf karena pinjam uang. Tapi pasti kulunasi karena aku tahu rasanya mengalami mati. Seperti yang terjadi pada keluargaku. Tak enak bila mati masih ada hutang.” ***

Makan malam dengan Mas Deni. Sangat sederhana. Rheina datang ke sebuah warung makan kecil di daerah kos-an Mas Deni. Dengan menu gudeg dan sambal krecek.
“Aku suka makan di sini. Harganya murah dan selalu mengingatkanku akan kampung halaman.”
“Kau tak ada niat untuk kembali ke Yogya?”
“Lha wong, di sana sudah ndak ada siapa-siapa lagi.”
“Bukannya kau kangen?”
“Sangat. Kota itu sangat ngangeni kata orang Jawa alias bikin kangen…tapi nanti lah kalau sudah aman, aku baru kembali.”
Sebenarnya Rheina berniat menagih hutangnya kepada Mas Deni. Sudah dua bulan lebih tidak dibayar. Tapi selalu muncul perasaan tak tega saja kepadanya. Entahlah, rasa kritis Rheina yang sangat berani hilang luntur bila di hadapan Mas Deni. Jiwanya yang sangat dingin dan pecandu kerja menjadi sangat rileks dan perhatian.
Seperti malam itu, ketika ada kucing lewat, Rheina langsung ikut memberinya makan bersama Mas Deni. Kucing montok berwarna putih itu langsung digendongnya.
“Kucing ini milik yang punya warung. Biar aku memberikan kucing ini kepada yang punya sekaligus membayar.”
“Biar aku saja yang membayar, Mas.”
“Aku yang mengajakmu kemari. Akulah yang seharusnya membayar.”
Mata Mas Deni sama lembutnya dengan mata kucing yang digendongnya. Hati Rheina kembali tenang dan melupakan piutang.
***

Di perjalanan pulang, Mas Deni masih saja sibuk ‘menyapa’ beberapa ekor kucing liar yang lewat. Malahan Mas Deni, sempat membeli ikan bakar hanya untuk seekor kucing yang tampak kelaparan. Rheina menanyakan mengapa Mas Deni sangat sayang kepada kucing. Ternyata Mas Deni merasakan nasib kucing itu sama dengannya. Hidup sebatang kara, sulit mencari makan dan kadang banyak tak peduli padanya. Rheina semakin tak tega untuk menagih hutangnya, namun ia sendiri sedang butuh uang.
“Kau ingat kucing yang kau guyur kopi beberapa waktu lalu?”
“Aku tak sengaja, Mas.”
“Iya, aku tahu kau tak sengaja. Seperti gunung Merapi yang sedang kesal, kau mengamuk, kucing itu seperti yang terkena awan panas. Makanya melepuh. Aku jadi teringat keluargaku ketika melihat kucing itu. Untung hanya kena kopi jadi tak mati..he..he..”
Rheina merasa tak enak untuk menagih hutangnya. Lagipula mengapa Mas Deni selalu mengingatkannya akan tragedi kucing dan kopi itu?
“Ada apa? Kau tampak gelisah.” Mas Deni melihat wajah Rheina yang tampak cemas.
“Oh, tak apa, Mas. Hanya masalah pekerjaan saja.”
“Semua pekerjaan pasti ada masalahnya. Kalau ndak dari pekerjaannya, bisa jadi dari lingkungannya,..sing penting hati kita tentrem pasti pekerjaannya ikut tentrem.” Mas Deni tertawa.
Rheina tertawa. Sejak mengenal Mas Deni, Rheina berhenti minum kopi, tidak ada lagi perasaan kantuk saat kerja. Jarang yang dikeluhkan.
“Mas Deni, apakah di Yogya semua orang seperti Mas Deni?”
Mas Deni langsung tertawa panjang.
“Hei! Aku serius!”
“He..he..kamu lucu bener sih. Kalau di Yogya kayak aku, yah sulit dong membedakannya.”
“Eh, Mas…”
“Ada apa?”
“Ah…tidak ada apa-apa.”
Rheina benar-benar kebingungan, padahal pekerjaannya sehari-hari adalah menelepon orang-orang yang masih menunggak hutang kepada Bank tempatnya bekerja. Tetapi kenapa hanya ke satu orang ini Rheina tak dapat berkata sepatah kata pun? Saat bekerja, Rheina sangat berhati dingin tak peduli alasan orang yang minta belas kasihan karena terkena kanker, kebakaran atau orangtuanya baru saja meninggal; tanpa ampun Rheina tetap menagih hutangnya. Kemanakah sikap kritisnya selama ini?
***

Pagi hari, di kantor sudah banyak yang menyambut Rheina.
“Rheina! Rupanya kau tidak minum kopi lagi ya?”
“Ya, sudah cukup lama.”
“Kenapa kau berhenti?”
“Tak boleh oleh dokter?”
“Atau harga kopi yang mahal?”
Seberondong pertanyaan menyerang Rheina saat dia baru tiba di meja kerjanya. Ada apa gerangan? Bukankah sudah lebih dari sebulan dia berhenti minum kopi, mengapa baru ada pertanyaan sebegitu banyak kali ini?
“Atau kau takut dikutuk oleh kucing?”
“Kucing?” Rheina balik bertanya.
“Oh, kau belum baca berita di surat kabar pagi ini? Lihatlah, nama lengkapmu disebut berulang-ulang di sini.”
Rheina membacanya dengan tangan gemetar. Hatinya sungguh emosi membaca sebuah kolom di koran. Kolom itu menceritakan seseorang yang bisa jadi penyiksa binatang hanya karena kurang tidur.. Di situ pun terdapat foto Rheina ketika tanpa sadar mengguyur kopi ke tubuh seekor kucing. Rheina sangat mengingat peristiwa pertama berkenalan dengan Mas Deni. Dan siapa lagi yang tidak tahu cerita itu selain Mas Deni.
Rheina langsung menjerit marah. Meraih ponselnya untuk menelpon Mas Deni dengan dua tujuan. Pertama menagih hutangnya, kedua masalah cerita di kolom itu. Tak jua diangkat. Kali ini tak ada rasa kasihan Rheina terhadap Mas Deni. Langsung dikirimnya pesan singkat untuk melunasi hutangnya.
***

Seminggu tak ada respon dari Mas Deni. Telepon tak kunjung diangkat. Pesan tak dibalas. Rheina benar-benar gelisah.
“Bukankah itu Mas Deni dari Yogya yang kerap kau ceritakan?” tegur rekan kerjanya.
“Ya. Tapi sampai saat ini tak ada kabar darinya.”
“Kau masih marah karena berita darinya minggu lalu? Dari ceritamu sepertinya belum tentu orang kayak dia yang menulis artikel itu.”
“Entahlah, tapi kita kan tak tahu persis bagaimana manusia. Buktinya dia sampai sekarang belum melunasi hutangnya.”
“Mengapa tak kau kunjungi saja kosannya? Aku antar kau ke sana pulang kerja.”
“Terima kasih. Aku sendiri belum pernah ke sana. Tapi aku tahu alamatnya.”
***

“Tidak ada yang namanya Mas Deni kos di sini.” kata seorang ibu paruh baya menjawab pertanyaan Rheina yang mencari Mas Deni.
“Tapi dia bilang alamatnya di sini. Mas Deni yang pakai kacamata, Bu. Dari Yogya. Dia masih lajang dan penyayang binatang.” Rheina menceritakan ciri khas Mas Deni secara detil. Baik penampilan maupun kebiasaan kepada ibu kos itu.
“Oh, dulu memang ada yang seperti itu kos di sini. Tapi dia sudah lulus.”
“Maksud ibu?”
“Sudah lulus kuliah. Dia lulus kira-kira lima tahun yang lalu trus langsung pulang kampung.”
“Dia tidak balik lagi ke sini, Bu? Kira-kira 2-3 bulan lalu?”
“Tidak mungkin, Nak. Kabar terakhir justru dia sudah meninggal karena bencana Merapi.”
Rheina kehabisan kata-kata. Dia benar-benar bingung. Dia menyimpulkan ibu kos Mas Deni sudah pikun. Bila Mas Deni telah meninggal lalu siapa yang meminjam uangnya dan menulis artikel di surat kabar minggu lalu?
“Miaaw…”
Tak lama lewat kucing yang sebelumnya pernah dijumpai Rheina ketika pertama kali bertemu Mas Deni.
“Kucing itu milik Ibu?” Rheina bertanya kepada ibu kos.
“Tidak. Tapi sejak ada kabar Deni meninggal, kucing itu sering berkeliaran di sini. Dan entah kenapa tiga bulan yang lalu tiba-tiba sebagian kulitnya kelihatan melepuh.”
Rheina langsung terdiam.Rheina hanya mencoba memberanikan diri untuk menyimpulkan bahwa ibu kos ini sudah tua dan suka mengada-ada.
***

September 4, 2011 - Posted by | Cerpen Dewasa |

1 Comment »

  1. Kasian jg ya.

    Comment by wandaaa | February 21, 2013 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: