dongeng sebelum tidur

Cerpen. Dongeng . Cerita Rakyat

Parfum Kafe


Cewek itu. Lagi-lagi cewek itu, kenapa harus terbayang terus olehku cewek itu. Cewek yang sungguh menyebalkan, selalu saja mencari perkara denganku, aku tak pernah merasa salah, tingkahnya yang membuatku gundah, tapi aku heran mengapa orang-orang selalu ada di pihaknya.

Cewek gendut, hitam, pendek dan jerawatan. Dari penampilan saja tak ada menariknya sama sekali. Dia tidak pintar, menurutku hanya sok pintar, tak jelas pekerjaannya.

Namanya Reni. Sebenarnya dia adalah teman waktu aku duduk di bangku SD dan SMP, aku dulu tak kenal dekat dengannya, tak pernah sekelas. Yang jelas dia dulu bukan murid yang ’jreng’, jadi aku tak kenal, atau aku yang kuper? Waktu bertemu di kafe ini 3 bulan lalu, dia langsung mengenal dan mentertawakanku. ”Heh…lo toh, si Nina yang dulu culun itu…gaya banget lo yah sekarang mainnya ke kafe.” Perkenalan atau reuni pertamanya saja sudah menyebalkan. Dia sangat menyombongkan karir dan gaya hidupnya. Huh! Aku mendengus dalam hati, apa yang perlu disombongkan, dia bekerja di perusahaan tak ternama, dan sepertinya jabatannya pun masih sebatas staf, itu pun bila benar dengan yang dikatakannya. Apalagi saat kulihat kendaraan pribadinya hanyalah mobil omprengan begitu. Sepertinya dia hanyalah OKB alias orang kaya baru, hanya dengan uang yang tak seberapa sudah sombong dan bergaya hidup mewah.

Yang membuatku sangat membencinya adalah kelakuannya yang selalu berselisih paham denganku. Dia selalu menentang perkataanku dan aku semakin benci ketika temanku – dan temannya – selalu berpihak kepadanya. Padahal aku yakin bahwa aku yang benar. Pernah aku memperdebatkan suatu masalah di kafe itu, hingga timbul perang mulut dan adu siram kopi, semua mata pengunjung kafe teralihkan ke arah kami saat itu. Teman-teman kami melerai ’perang’ kami dan mereka menasihatiku – bayangkan hanya aku yang dinasihati! – janganlah mudah meledak emosi. Bukankah Reni yang memulai semua ini? Dan aku lihat dengan mata kepalaku sendiri, Reni tersenyum licik ketika aku ditegur semua orang.

Kafe Melati, memang kafe langgananku untuk browsing dan bekerja sebagai penulis freelance, suasananya tenang ditambah dengah harumnya bunga melati di taman kafe yang masuk hingga ke dalam kafe. Sungguh harum dan segar. Keharumannya berpadu dengan kopi yang kuminum. Sungguh tak ada yang menandingi dan selalu saja memberiku inspirasi untuk menulis cerita novel atau artikel ke surat kabar. Belum lagi suasananya yang begitu tenang, tak begitu banyak pengunjung, tapi juga tak terlalu sepi dengan diwarnai musik bernada jazz dan slow. Tempat yang sangat nyaman bagiku untuk menulis. Entah mengapa saat aku menulis di kafe itu, rasanya tangan ini tak ada henti untuk menggerakkan jari di keyboard notebook, dan tak pernah ada kehilangan ide untuk dijadikan topik artikelku. Rasanya selalu saja muncul inspirasi yang terus mengalir di air terjun dengan paduan harumnya melati, nikmatnya kopi dan dentuman musik jazz.

Suasana kenyamanan di Kafe Melati, terusak begitu saja dengan kehadiran cewek itu. Aku tak mengerti mengapa ia senantiasa berkunjung ke kafe ini sejak sobatku mengenalkannya dengannya. Apakah ia juga senang dengan suasana kafe ini atau hanya untuk mencari perkara denganku. Dan dia tak hanya sendirian datang ke sini, selalu membawa rombongannya yang super berisik itu. Aku jadi tak konsentrasi untuk menulis dan selalu saja kehabisan ide. Sejak kehadiran Reni di Kafe Melati, aku mencari kafe atau resto hot spot lain untuk menyelesaikan pekerjaanku. Ku tak bisa menyelesaikannya di rumah, bila di rumah aku langsung terpaku untuk menyelesaikan pekerjaan utamaku sebagai guru, memeriksa hasil PR dan test murid-muridku. Tidak ada tempat senyaman kafe ini – di tempat lain selalu ramai pengunjung – mungkin karena kafe ternama, ku tak bisa mendapatkan ide menyelesaikan novelku. Akhirnya aku kembali ke favoritku ini, Kafe Melati, ku berusaha menyelesaikan tugasku sambil menyeruput kopi, sebelum Reni datang.

Ah! Lagi-lagi dia sudah datang dengan rombongannya yang berisik itu. Ketika dia duduk di sebelah mejaku sambil melirik ke arahku, ku langsung bersiap-siap memindahkan notebook dan minta tolong pelayan agar memindahkan kopiku. Aku pindah di pojok kafe dekat jendela. Cukup nyaman juga tempatnya dan yang penting bebas dari gangguan.

“Heh! Ngapain lo pindah tempat duduk?” jerit Reni sambil menghampiriku.

“Suka-suka gue dong. Memangnya lo nenek gue? Mo ngatur seenaknya.”

“Takut sama gue ya?”

“Ngapain gue takut sama lo? Lo tuh berisik! Kayak rombongan anak TK.”

“Lo kalau mau cari tempat sepi mendingan lo ke mesjid atau kamar mandi saja.”

Lagi-lagi seluruh pelayan dan pengunjung kafe melihat aku. Dalam hati ku sungguh malu. Aku langsung duduk dan pura-pura tak melihat Reni.

“Heh! Lo tuli ya, sana buruan ke masjid!”

Aku tak peduli. Reni langsung kembali ke tempatnya. Dan langsung membuat keributan, sepertinya kali ini jauh lebih ribut, dia sengaja agar membuatku gusar. Berusaha tak menghiraukannya, kali ini sedang klimaks dari cerita yang kutulis…..Sial! Benar-benar tak ada ide sama sekali, padahal sudah berapa kali aku ditagih penerbit dan janji akan tiba di meja redaksi dua hari lagi. Gank-nya Reni benar-benar berisik seperti di pasar Tanah Abang.

“Ren!” kuhampiri mejanya. “Lo bisa diam sedikit saja nggak sih? Lo bikin kerusuhan di tempat umum.”

“Kerusuhan? Gue nggak demo kok!”

“Tapi lo dan teman-teman lo benar-benar super ribut.”

“Suka-suka gue dong. Lagipula ini kan tempat umum, bebas dong gue mau ngobrol dan ketawa sepuasnya!”

“Tapi lo ganggu konsentrasi gue.”

“Memangnya lo mau ngapain sih? Kalau mau yang sepi, udah sono ke masjid atau kuil!”

“Dasar egois!”

Telah beberapa kali kudengar suara desisan ular di sekitar kita. Temannya Reni menariknya agar segera duduk. Tak lama datang supervisor ke arah kita.

“Maaf, ibu-ibu, bisa tenang sedikit? Bila ingin mencari keributan sebaiknya keluar saja dari tempat kami.”

“Tapi dia yang mulai duluan!” aku dan Reni bicara bersamaan dan saling menunjuk.

“Mohon tenang bu, sebelumnya saya tak mendengar ada huru-hara di sini, tapi sejak ibu menghampiri meja ibu ini, suasana menjadi tidak nyaman. Mohon ibu kembali ke meja ibu lagi. Atau bila merasa tak nyaman sebaiknya keluar saja dari sini.” Supervisor itu menatapku dan menuntunku ke tempat semula. Aku kesal setengah mati, seolah-olah aku lah yang menyebabkan kerusuhan itu. Dia tak menyalahkan keributan dari gank-nya Reni di situ.

Aku kembali ke mejaku. Kulihat ke arah taman melati yang mengelilingi air mancur. Pikiranku kembali tenang dengan taman yang indah dan harum itu. Aku kembali tenang. Angin membawa harumnya melati ke dalam kafe. Kupejamkan mata; hilang sudah bayangan Reni dan teman-temannya yang menyebalkan itu. Ku kembali menulis. Tiba-tiba aku terbatuk. Bau apa ini? Bukan bau kembang melati. Sangat tak sedap! Tapi juga bukan bau sampah, sama-sama wangi, tapi terlalu menyengat. Bau si nyong-nyong alias parfum murahan. Aku mencoba mencari sumber bau menyengat itu – menghilangkan aroma kopi dan melati – ternyata dari seorang pelayan. Tampaknya pelayan baru – baru kulihat kali ini – masih muda dan lumayan tampan juga, tapi tampaknya playboy, kelihatan ekspresinya beda saat melayani pelanggan pria dan wanita, saat melayani pelanggan wanita dia sok ramah dengan senyum dibuat-buat dan disertai sapaan rayuan “Hei kamu sedang apa?” persis Joey Tribbiani, salah satu tokoh dalam serial TV “Friends” yang dimainkan aktor Matt LeBlanc.

Bau parfumnya membuatku mual, seperti mabuk darat saat mudik lebaran. Sialnya, pelayan itu ngetem persis di belakang bangkuku. Aku ingin pindah tempat duduk tapi satu-satunya yang kosong adalah di sebelahnya Reni, tempat dudukku semula. Aku benar-benar jengkel, di sini bau parfum murahan, di sana ada Reni, dan aku tetap berkeras tak mau pergi. Gengsi sama Reni, nanti dia pasti merasa menang, merasa bisa membuatku tak nyaman.

___________________

“Hei, Mas..,” aku memanggil pelayan playboy itu sambil menutup hidungku dengan tisu. Semakin dia mendekat, bau parfumnya benar-benar membuatku mual.

“Ada apa, Bu?”

“Tolong berikan ini pada ibu yang di sana,” aku menunjuk Reni.”Dan berikan yang satu ini pada kasir.”

“Baik, Bu. Ada apa yang bisa kubantu lagi?”

Aku menggelengkan kepala. Selangkah saja pelayan itu pergi, aku langsung ke toilet dan muntah. Bau parfumnya benar-benar membuatku tak tahan. Dan sepertinya si playboy itu justru bangga dengan parfum itu – merasa yang paling wangi dan disukai wanita – seperti iklan merk suatu deodoran di TV.

Keluar dari toilet, pelayan playboy yang tampak celingukan itu langsung menunjukku.

“Heh, Nin, sini lo” Reni berteriak memanggilku.

“Kenapa?”

“Jangan pura-pura polos gitu deh. Apa maksud lo nitipin ini?” Reni mengacungkan kertas yang kutitipkan pada si playboy. Isinya puisi cinta – yang kubuat – tentang pernyataan cinta si playboy ke Reni – dengan bernada rayuan.

“Kok gue yang disalahin? Kali aja ini memang benar-benar dari dia.”

“Memang gue gampang dibohongin. Gue tahu lo penulis dan ini puisi gayanya lo banget. Maksud lo apa sih?”

Aku ingin menyerangnya, tapi tak sanggup, aku mual.

“Kenapa lo? Lagi hamil yah? Belum kawin tapi sudah hamil. Dasar cewek murahan!”

Plak! Langsung kutampar pipinya. Muka Reni langsung merah.

“Ibu-ibu, mohon jangan buat keributan di sini,” pelayan itu berusaha menenangkan kami. Dia berdiri di antara aku dan Reni dan merentangkan tanggannya untuk melerai kami.

Bau parfumnya semakin tercium dekat olehku. Aku benar-benar tak kuat dan langsung muntah.

“Ibu tak apa-apa?” tanya sang pelayan. Aku terus berusaha menjauh darinya.

“Sudah hamil di luar nikah, pacaran dengan pelayan pula. Lo nggak berubah yah dari SD. Kuper. Cuma kenal sama pelayan. Kuper dan murahan!!”

Kata-kata Reni itu semakin membuatku panas. Ku berusaha mengambil secangkir kopi panas milik temannya, ingin kusiram wajahnya, tapi aku mual lagi. Akhirnya kopi itu justru menyiram wajah pelayan itu. Dia menjerit kesakitan dan menutupi wajahnya. Seluruh orang yang ada di situ langsung menghampiri kita. Supervisor yang tadi juga datang.

“Lagi-lagi kamu! Cepat keluar dari sini!” Dia bertolak pinggang di hadapanku.

“Oke, saya akan keluar,” jawabku dengan ketus.

Reni dan gank-nya mentertawakanku. “Maaf ya, di sini tak menerima cewek murahan.”

Aku langsung mengambil notebook; yang sudah kurapikan sebelumnya. Aku langsung keluar dengan hasil karangan novelku yang hanya sebait itu. Aku tak akan kembali lagi ke kafe itu. Sudah tak seharum namanya lagi dan sekarang bertambah banyak orang menyebalkan di situ – Reni beserta gank-nya dan playboy dengan parfum murahan itu – ku langsung masuk mobilku dan melaju pulang. Tapi aku bisa tersenyum puas. Semuanya berjalan sesuai rencana.

__________________

“Minta bill-nya,” seru Reni.

“Ini.”

“Apa? Kenapa semahal ini?”

“Ibu kan yang pesan semuanya. Itu yang di bungkus sudah siap, Bu.”

“Saya nggak pesan yang dibungkus.”

“Tapi semuanya atas nama ibu. Termasuk biaya makan ibu yang marah-marah barusan.”

“Kata siapa?”

“Kata kasirnya, Bu. Tadi ada pelayan yang menyampaikan berita itu padanya. Yang baru saja diguyur sama ibu yang diusir tadi.”

“Mana pelayannya?”

“Dia sudah dibawa ke rumah sakit karena luka bakarnya parah. Ibu mau bayar tidak? Kok dari tadi cuma tanya-tanya saja?”

Akhirnya Reni membayar tagihan sebesar setengah juta itu dengan kartu debitnya. Dia merungut kesal.

___________________

notes : cerpen ini baru saja kuterima surat penolakannya untuk diterbitkan di Femina🙂

silakan menilai apa kekurangannya😛

November 29, 2009 - Posted by | Cerpen Dewasa | ,

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: