dongeng sebelum tidur

Cerpen. Dongeng . Cerita Rakyat

Gerimis


Tibanya saat akhir pekan. Telah jauh-jauh seorang cucu yang dari ibukota menngunjungi kakeknya untuk berjalan-jalan di sungai Terang. “Sabarlah, tunggu matahari agak terang. Sekarang masih berkabut.” Sang kakek hanya duduk di teras saja membaca koran sambil merokok.
“Kenapa namanya sungai Terang, Kek?”
“Nanti kau akan lihat bila kabutnya sudah pergi. Temani nenek saja di dapur.”
Jauh dari daerah dekat sungai Terang itu, di sebuah stadion olahraga, telah padat pengunjungnya. Walaupun langit mendung. Tak tampak sorot matahari. Sebagian mengikuti instruktur untuk senam aerobik. Sebagian lagi lari pagi dan jalan santai mengitari stadion.
Setelah pemanasan, dimulailah gerakan inti pertama senam aerobik. Seluruh peserta tampak semangat. Hanya akhir minggu mereka bisa berolahraga. Sepanjang hari sibuk untuk bekerja. Takut akan semakin bertambahnya berat badan.
Namun di tengah semangatnya senam, terasa di tangan dan muka peserta setetes air yang mengenai kulitnya. Gerimis telah tiba. Langit semakin mendung. Sebagian mulai khawatir. Sebagian mengenakan topinya.
Sang instruktur menyadari hal itu. Ia menghentikan gerakannya. Mengambil mike dan berkata kepada peserta. “Gerimis hari ini, apakah senamnya kita hentikan atau lanjutkan saja?”
“Lanjuut” sahut peserta dengan semangat. Mereka terus berlompat-lompatan dan menggerakkan tangannya. Langit mendung dan cuaca dingin tak menghalangi mereka untuk mengeluarkan berolahraga. Di track lari pun, tak ada yang menghentikan gerakan mereka.
Tak jauh dari stadion olahraga itu tedengar kampanye sebuah partai telah dimulai. Banyak warga telah berkumpul di alun-alun besar. Panggung di depan telah berdiri dengan hiasan aneka bunga dan bendera nuansa jingga. Pelbagai artis dan orang-orang yang mengenakan atribut partai pun lengkap. Ketika gerimis turun, para ibu-ibu telah melebarkan payungnya. Mereka ingin melihat aksi kampanye hingga selesai.
Sekitar satu kilometer dari stadion olahraga tampak rombongan warga dari suatu RW tetap melakukan aksi kerjabaktinya. Menggali selokan agar lebih dalam supaya tidak sering banjir. Beberapa memacul untuk menanam pohon. Saat gerimis tiba, mereka semakin senang. Berarti tidak perlu berkeringat karena panas matahari. Lebih nyaman untuk bekerja. Tak ada rasa dahaga.
Sehari sebelum aksi kerjabakti dimulai. Semalam ketua RW telah berkoar-koar agar warga yang benar-benar berminat mengikuti aksi itu mendaftarkan namanya. Ketua RW tahu bahwa bertepatan dengan rencana membersihkan selokan itu, akan ada aksi kampanye di daerah sekitar sana. Pasti banyak warganya yang ingin menyaksikan hiburan dangdut dan berharap mendapat uang kampanye.
“Kerja kita sukarela” kata Pak RW “Hanya dapat makanan dan minuman dari ibu-ibu sini. Tak ada upah. Bila besok ingin benar-benar hadir, silakan tulis namanya dan pastikan besok datang. Ini demi kepentingan kita juga supaya tidak kebanjiran.” Pak RW membagikan selebaran kertas kepada warganya yang hadir saat rapat di rumahnya. Dan meminta sekretaris – anaknya – untuk mengedarkan selebaran itu ke rumah warga. Akhirnya dari data yang terkumpul hanya 30 orang saja yang bersedia mengikuti kerjabakti. Pada pagi harinya hanya 20 orang yang siap-siap untuk membersihkan selokan.
“Masih gerimis, mau istirahat dulu. Ada pisang goreng dan kopi di posko. Bagaimana?” sahut Pak RW.
“Lanjutkan saja Pak,”ujar beberapa orang ,”Supaya cepat-cepat selesai.Nanti siang aku ada acara dengan keluarga.”
“Setuju!!” sambung yang lain. “Hanya gerimis ringan saja. Buat apa ditakuti?”
Kerja keras para warga membersihkan selokan dan memperbaiki beberapa tanggul air pun dilanjuti.
Sementara di stadion olahraga para peserta aerobik sudah memasuki gerakan yang lebih berat dan melelahkan. Matahari secara malu-malu menembus awan dan kabut. Lapangan mulai tersorot oleh mentari pagi. Keringat pun mulai mengucur.
“Lihat…sudah terang lagi. Ternyata semangat berolahraga kita menaklukkan gerimis,” kata seorang peserta.
“Ya, semangat kita menundukkan matahari agar patuh pada kita,”lanjut peserta di sebelahnya.
Payung-payung yang memenuhi lapangan kampanye pun telah tertutup. “Lihat semua bapak-bapak dan ibu sekalian. Partai kita memang hebat kan. Gerimis saja berhasil kita kalahkan,” sahut ketua partai yang sedang kampanye.”Alam saja takut pada kita. Sudah pasti keinginan rakyat pasti terpenuhi. Pemerintah pasti akan berubah berkat kita. Ini bukan janji, telah terbukti, lihat saja mentari menyoroti karena tekad kita ini. Berarti terbukti bahwa kita pantang menyerah dan pasti kita bisa!!”
Tepukan tangan penonton menyertai pidato sang ketua partai itu. Acara pidato dilanjutkan dengan acara hiburan dangdut dan joget. Di sisi panggung dibagikan amplop berisi uang kepada peserta kampanye. Para peserta kampanye langsung melesat menuju pembagian uang kampanye itu. Beberapa petugas keamanan berusaha menertibkan kerusuhan dan aksi saling berebut uang itu.
Pak RW yang memimpin kerjabakti menghentikan aksi mencangkulnya. Ia menengadahkan telapak tangannya ke arah langit. Memastikan tak ada lagi tetesan air yang jatuh ke tangannya. Lalu ia menatap langit, matanya terasa silau. Benar,pikirnya, gerimis tak perlu ditakuti. Pekerjaan di wilayahnya hampir selesai.
Mereka semangat bekerja demi kenyamanan jalanan sekitar bila hujan deras dan juga mengejar waktu agar dapat menikmati akhir pekan bersama keluarga. Seakan tergiang-ngiang lagu masa taman kanak-kanak “Menanam jagung”. Mereka membersihkan selokan dan menanam pohon-pohon dengan tak jemu-jemu, mengayunkan cangkul, sapu lidi dan parungnya.
Juru kampanye terus berkoar-koar ditengah aksi artis dangdut diiringi joget para penonton aksi kampanye.
Semua orang yang berolahraga semakin semangat ingin membakar kalori dan merampingkan tubuh mereka. Tak ada waktu untuk olahraga selain di akhir pekan. Tiba-tiba, salah satu peserta senam merasakan kembali air menetes ke tangannya. Tanah stadion mulai basah. “Gerimis lagi, “ ujarnya “Aku berhenti saja, takut hujan besar.”
“Buat apa ditakuti? Toh hanya air, nanti juga akan berhenti lagi seperti tadi. Kau kan serius ingin menurunkan berat badanmu?” sahut teman di sebelahnya.
“Aku capek, ingin istirahat dulu di tempat jajanan sana.”
“Ya, terserahlah, tapi aku berani bertaruh sepertinya hanya gerimis sebentar saja. Air ini hanya uji nyali saja.”
Instruktur senam menanyakan hal serupa, dan jawabannya tetap sama.
Juru kampanye tetap menyemangati penonton dan pendukungnya. “Karena kekuatan dan semangat partai kita. Saya yakin kita pasti akan bisa mengantongi matahari dan awan. Toh tadi telah terbukti.” Penontonnya bertepuk tangan dan bersorak.
Warga RW yang kerjabakti tetap semanngat membersihkan jalan, membakar sampah, membersihkan selokan dan membenahi tanggul yang bocor.
Di tengah awan mendung kelabu dan gerimis ringan terdengar riuh rendah semangat manusia di akhir pekan. Peserta senam semangat menghentakkan kaki dan tangannya, aksi olahraga di track jogging pun bertambah banyak, di stadion olahraga semakin banyak atlit beraksi; permainan bola basket, tennis, dan badminton. Di lapangan kampanye, dengan payung yang mengembang dan bergoyang kesana kemari, pemegang payungnya terus bergoyang mengikuti irama dan goyangan artis dangdut. Juru kampanye puas dengan pendukungnya yang sangat banyak. Mereka tetap setia mengikuti aksi kampanye walaupun gerimis kian melebat. Cangkul dan parung terus terdengar hentakannya.
Sementara itu, jauh dari sana, seorang cucu yang sejak tadi ingin berjalan bersama kakeknya terus merengek. “Kek, kapan kita ke sungai Terang?”
“Cuacanya tak mendukung. Kau lihat, awannya semakin gelap, akan hujan lebat.”
Sang cucu memasang tampang cemberut. Kakeknya berusaha menghibur. “Kau tak perlu marah Nak, kan kita masih bisa ke sana lain kali.”
“Besok liburanku telah usai Kek. Aku harus kembali ke tempat ayah dan bunda.”
Kakek tersenyum. “Nanti siang saja ya?”
“Tadi sempat cerah Kek, tapi kakek tetap asyik merokok saja. Lupa yah pada janjinya?”
“Kakek tak lupa kok…hanya saja pas sudah mulai terang tadi, kakek agak khawatir karena dari arah puncak masih terlihat kabut tebal ke arah sini.”
Sang cucu tetap cemberut.
Nenek menghampiri mereka. “Dia masih penasaran kenapa diberi nama sungai Terang. Jelaskan saja Kek, lagipula dari teras atas rumah kita masih bisa terlihat kok sungai itu.”
“Baiklah,” kata si Kakek. Ia menggendong cucunya ke lantai dua menuju teras.”Sungai itu dinamakan sungai Terang karena bila cuaca cerah, sungai itu menjadi terang sekali seperti berlian. Sungai itu memantulkan kembali sinar mataharinya. Setiap orang yang lewat pasti menjadi silau karena melihat sungai itu. Padahal sungai itu kini tak sebersih dulu, tapi tetap terlihat bening dan bercahaya bagai berlian. Bahkan hingga sore hari, rumah daerah sekitarnya masih belum perlu menyalakan lampu karena pantulan sinar dari sungai itu.Lihat, indah kan sungainya?” si Kakek menjelaskan dengan sabar tentang sungai itu.
“Tapi, tak seterang sinar berlian Kek?”
“Karena tak ada sinar matahari Nak, doakan saja agar hujannya berhenti.”
“Kenapa hujan sih Kek? Bukankah seharusnya ini musim panas?”
“Memang seharusnya saat ini musim panas. Tapi hujan ini kan kehendak Tuhan. Kita tak tahu apa yang kan terjadi.. Tuhan yang menciptakan alam semesta ini. Maka Tuhan pula yang mengaturnya. Kita hanya bisa berharap. Dan berdoa”
Sang cucu mengangguk. “Iya Kek, guru ngajiku juga suka bicara begitu.”
“Sekarang kita nikmati saja hawa sejuk dan gerimis ini dari sini.”
Mereka berdua melihat sungai itu dari teras rumah.
Tiba-tiba sang cucu langsung berteriak “Kek, sungainya kenapa?”
Sungai itu berarus makin kencang diiringi ombak. Arusnya sangat deras. Arusnya tampak berputar tiada henti. Kakek tercengang melihat sungai itu. Mengapa jadi seperti lautan? Itu hanya sungai kecil. Teras tempat mereka melihat pun seakan bergetar.
Terdengar desiran air kian menderu disertai hembusan angin kencang. Beberapa dahan patah di sekitar sungai. Kakek itu langsung merangkul cucunya.
“Ayo Nak, kita lekas turun dari sini! Cepat panggil nenekmu!”
Mereka bertiga pun berkumpul dan saling berdekapan erat. “Ada apa Kek?” tanya Nenek. Kakek membisu – panik – langsung menggandeng Nenek dan cucunya keluar rumah.
Bunyi musik aerobik dari stadion olahraga makin beseru ramai. Loncatan pesertanya saling beradu suara keras. Dentuman bola basket dan bola tennis terus mengencang. Derap langkah yang sedang lari pagi pun saling bersahutan keras.Cangkul semakin kencang terdengar dan beradu dengan aspal di wilayah kerjabakti. Suara musik dangdut makin semarak. Joget kian marak, penyanyinya bergoyang seksi. Mereka tak menghiraukan suara petir. Orang-orang saling berebut mendapatkan uang kampanye tak mempedulikan orang di sekitarnya yang berjatuhan karena kena sikut.
Bunyi gelegar petir terus bersahutan. Tak ada yang peduli. Ini akhir pekan yang harus dinikmati, batin mereka. Hujan hanyalah air yang tak perlu ditakuti.Tiba-tiba hujan kian lebat. Pepohonan besar di sekeliling stadion ambruk begitu saja menimpa mereka yang sedang rehat di tempat jajanan. Payung peserta kampanye beterbangan terbawa angin. Petir menyambar tiang bola basket dan habislah mereka yang sedang asyik bermain basket. Petir kembali menyambar sound system di panggung kampanye. Panggung kampanye rubuh. Juru kampanye dan pendukungnya langsung berlarian panik. Sungai Terang kian meluap kencang, terus mengarus bagaikan ombak laut di kala badai. Cangkul para sukarelawan terlepas dari tangan dan membentur kepala yang lain. Sapu lidinya pun menusuk bola mata yang memegangnya. Amplop uang kampanye yang sudah dipegang pun terbawa arus. Hujan makin deras. Kali ini air sepertinya benar-benar mengamuk karena disepelekan. Payung para peserta kampanye menusuk juru kampanye sendiri.Tak ada yang peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Mereka hanya berjuang untuk menyelamatkan diri sendiri. Peserta senam saling bertabrakan terbawa air sungai. Keringat mereka hilang begitu saja bercampur sungai yang bercampur darah.
“Kek” ujar sang cucu terbata-bata.
“Tenang, hujannya sudah reda. Nenek selamat, hanya pingsan.”
Sang cucu mendekap kakeknya ketakutan. Kakek berusaha bangkit perlahan. Ia menatap daerah di dataran bawah. telah habis rata oleh sapuan sungai. Hanya terlihat orang-orang tergeletak berserakan dan tak berdaya. Mungkin telah menjadi bangkai. Tak ada lagi sungai Terang yang ingin diperlihatkan kepada cucunya. Sungai itu kian meluas. Bagaikan laut. Tak ada lagi sungai Terang walaupun matahari mulai terang. Yang ada hanyalah sungai Merah. Nan berlimbah darah.

(arlin, 12 April 2009)

notes :
ini juga ditolak redaksi Kompas…hehe, tapi aku tak pernah menyerah untuk berhenti menulis..😛

November 29, 2009 - Posted by | Cerpen Dewasa |

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: