dongeng sebelum tidur

Cerpen. Dongeng . Cerita Rakyat

Baju Lebaran


Akhirnya jadi juga baju lebaran Rani hasil karya neneknya. Rani melengak-lengok di depan cermin, bergaya dengan baju baru untuk dikenakan esok harinya
Saat tiba keesokan harinya, ketika gema takbir terdengar berkumandang saling bersahutan, Rani berlarian tak sabar menuju lapangan seakan berlomba dengan gema takbir. Dan pakaian baru Rani tersangkut oleh sebuah ranting pohon mangga. Bunyi deritan kain yang sobek sangat perlahan namun tangisan Rani menyaingi suara takbir.
“ Ma…. Rani ingin baju baru lagi.”
“Sst, sudah tak sempat lagi sekarang.”
Pulang dari shalat Ied Rani terus merengek ingin dibelikan baju baru dan dia juga memaksa neneknya menjahit baju lebaran lagi.
“Rani, pakai saja baju lebaran tahun lalu. Masih bagus “ kata neneknya.
“Tapi Nek…semua teman Rani pasti pakai baju baru buat lebaran.”
“Rani, jangan nangis. Sudah banyak tamu. Bajumu masih banyak yang bagus.” sahut ayahnya.
Ibunya mengganti baju lebaran Rani. Tapi Rani masih cemberut.
“Ma, beli baju baru sekarang.”
“Sudah tidak sempat. Sekarang semua toko tutup. Nenek juga sibuk karena banyak tamu.”
“Tapi, ini kan lebaran Ma…, semua orang pakai baju baru.”
“Apakah lebaran itu berarti pakai baju baru saja? Kamu masih beruntung bisa mengenakan pakaian bagus saat lebaran dan berkumpul sama mama, papa, kakek, nenek, makan ketupat dan kue lebaran. Masih banyak orang sendirian saja saat lebaran tanpa makanan enak dan pakaian.”
“Kalau begitu, kenapa banyak yang beli baju baru untuk lebaran? Termasuk Mama sendiri?”
“Karena lebaran adalah hari istimewa, hari kemenangan setelah sebulan puasa. Kita menghargainya dengan mengenakan yang terbaik, bila kita mampu, tapi bukan suatu keharusan. Bila kita tak mampu, kita cukup mengenakan pakaian yang bersih.”
“Tapi bagaimana buat pengemis di jalanan yang tak punya pakaian bersih?”
“Rani, Tuhan Maha Tahu….bila kita tak mampu, Tuhan pun Maha Tahu.Yang dinilai adalah amal ibadah kita. Sekarang bantu Mama ya, masih banyak tamunya, nanti kamu akan Mama beri baju lebaran.”
“Asyik.” Rani pun langsung bersemangat membantu ibunya menyuguhi tamu dengan berbagai hidangan khas lebaran. Ketika sang surya telah tenggelam, sudah tak ada tamu yang berkunjung. Rani melihat ibunya sibuk membereskan pakaiannya.
“Mama mau kemana?” tanya Rani.
“Tidak kemana-mana. Mama hanya membereskan pakaianmu yang sudah kekecilan. Ternyata bajumu banyak sekali.”
“Mama…,tadi Mama janji kan mau memberi baju lebaran untuk Rani.” Rani kembali merajuk.
Ibunya tersenyum dan mengangguk. “Sebaiknya kamu mandi dulu dan bersiap-siap. Setelah itu kita pergi.”

“Tapi, kata Mama kalau lebaran tokonya tutup. Lagipula sekarang sudah sore.”
“Ada yang buka. Sudahlah, kamu siap-siap.”
Setelah shalat Maghrib, Rani pergi bersama kedua orang tuanya. Kakek dan neneknya istirahat di rumah. Kemudian setelah satu jam perjalanan, mereka tiba di sebuah panti asuhan. Rani tertidur di mobil karena lelah seharian bermain bersama saudaranya yang mengunjunginya.
“Rani, bangun,” tegur ayahnya.”Kita sudah sampai.”
“Dimana sekarang?” tanya Rani. “Kita tidak jadi pergi ke toko?”
“Ini tempat yang lebih hebat dari toko dimana kita bisa mendapatkan segalanya dengan beramal.”
“Kenapa?”
“Toko tempat orang jual beli untuk mendapatkan barang, tapi di panti asuhan kita bisa mendapatkan sesuatu yang lebih berharga dari barang tanpa mengeluarkan uang secara terpaksa. Nanti kau akan tahu sendiri. Masuklah.”
Begitu masuk ke dalam panti asuhan Rani hanya terdiam saja. Sikapnya yang periang tiba-tiba berubah drastis. Rani tertegun dengan melihat meja di panti asuhan. Hari ini adalah hari lebaran dimana biasanya beragam makanan tumpah ruah di rumahnya ataupun rumah saudaranya. Di meja panti asuhan itu hanya tampak beberapa gelas air putih, dua toples kue lebaran, setoples kacang, dan beberapa minuman kaleng – sepertinya itu sumbangan, terlihat ada kartu ucapan di bungkusan minuman itu – menu makanan lebaran yang sangat seadanya. Terlihat beberapa bungkus ketupat di sebuah piring dan ada seorang anak yang memotongnya untuk dibagikan kepada sepuluh orang temannya, opor ayamnya pun hanya berupa kuah, ditambah sepiring abon. Tapi mereka sangat menikmati hidangan ‘lebaran’ itu. Pakaian mereka pun sangat jauh berbeda dengan yang dikenakan Rani – walaupun Rani tidak mengenakan baju baru – ada yang kebesaran, ada yang kekecilan, ada yang telah pudar warnanya. Dan yang lebih menyedihkan lagi, mereka merayakan lebaran tanpa orang tua ataupun sanak saudara seperti yang dirasakan Rani. Tapi mereka sangat menikmati hari lebaran ini jauh lebih gembira dari yang dirasakan Rani dimana masih saja terus merengek untuk diberi baju lebaran.
“Maaf, sepertinya kita terlambat memberinya. Seharusnya sebelum malam lebaran kemarin ya, Bu?” terdengar suara orang tua Rani sedang berbicara kepada pengurus panti asuhan.
“Tidak apa-apa. Tidak pernah ada kata terlambat untuk memberi.”
“Rani..,”panggil ibunya.
“Ya, Ma.”
“Tadi kamu ingin baju lebaran kan?”
Rani hanya menunduk lalu menggelengkan kepalanya.”Tidak jadi, Ma. Baju Rani sudah banyak,” katanya perlahan.
“Baguslah. Sepertinya kamu sudah mengerti.” sahut bapaknya. “Ran, ini baju-baju kamu yang sudah tidak dipakai lagi. Kamu bisa memberikannya kepada mereka. Setiap ucapan terima kasih dari mereka ibarat baju lebaran baru buatmu.”
“Kenapa?”
“Karena kau memberikan baju lebaran untuk mereka. Dan orang yang memberi jauh lebih mulia. Imbalan orang yang memberi jauh lebih berharga dibandingkan sebuah baju lebaran baru.”
Dan Rani pun membagikan satu per satu pakaian bekasnya kepada saudara-saudaranya di panti asuhan itu. Mereka langsung menerimanya dengan senyuman hangat, ucapan terima kasih yang ikhlas, pelukan, ada pula yang menangis terharu bahkan ada yang rela memberi makanan dan mainan kesayangannya kepada Rani sebagai ucapan terima kasih. Rani pun ikut terharu dan tersenyum. Lenyap sudah segala kekesalannya di pagi hari saat bajunya sobek, rasanya lebaran kali ini ia benar-benar mendapatkan ‘baju lebaran’ terbanyak dengan jerih payahnya sendiri. Bermodal amal yang ikhlas dari hatinya tanpa meminta uang sepeser pun dari orang tuanya.

Pesan Moral :
– Memberi jauh lebih baik daripada menerima. Untuk memberi tidak harus bermodalkan harta/uang, memberi yang baik adalah yang dilakukan dengan ikhlas.
– Saat lebaran bukanlah berarti harus dengan baju lebaran. Lebaran harus disyukuri sebagai hari kemenangan setelah sebulan puasa, lebaran adalah hari terbaik untuk saling bermaafan dan jauh lebih bermakna bila kita dapat saling memberi dan mengasihi.

– arlin, 24 September 2009 ,Idul Fitri 1430H-

November 29, 2009 - Posted by | Cerpen Anak | ,

1 Comment »

  1. sangat bagus
    mkshi

    Comment by Gamis Baru | August 2, 2014 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: